Pengajian kitab Sairus Salikin merupakan bagian dari tradisi keilmuan Islam yang telah lama hidup di tengah masyarakat Nusantara. Kitab Sai...
Pengajian kitab Sairus Salikin merupakan bagian dari tradisi keilmuan Islam yang telah lama hidup di tengah masyarakat Nusantara. Kitab Sairus Salikin adalah karya penting dari Syekh Abdus Samad al-Palimbani yang disusun pada tahun 1788. Kitab ini ditulis dalam bahasa Arab Melayu dengan tujuan memudahkan masyarakat memahami ajaran tasawuf dan tauhid dalam kerangka Ahlussunnah Wal Jamaah.
Karya ini merupakan ringkasan dan saduran dari kitab Ihya Ulumuddin yang ditulis oleh Imam Al-Ghazali. Dengan pendekatan yang lebih sederhana namun tetap menjaga substansi, kitab ini menjadi penghubung antara khazanah keilmuan Islam klasik dengan realitas masyarakat Melayu pada masanya.
Isi Sairus Salikin mencakup berbagai aspek kehidupan beragama, mulai dari fikih, syari’at, hingga pembahasan tasawuf dan hakikat. Di dalamnya juga dibahas adab sehari-hari seperti makan, minum, dan pergaulan, serta penekanan pada pentingnya penyucian jiwa atau tazkiyatun nafs. Pembahasan ini menjadikan kitab tersebut tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktis dalam kehidupan sehari-hari.
Secara struktur, kitab ini terdiri dari empat jilid besar yang dalam beberapa edisi diringkas menjadi dua jilid atau empat juz. Susunan ini memudahkan pembaca untuk mempelajari isi kitab secara bertahap. Dalam tradisi pesantren, kitab ini sering dijadikan rujukan utama dalam kajian tasawuf, khususnya di wilayah Sumatra seperti Aceh. Kitab ini juga sering dibedakan dengan Hidayatus Salikin yang lebih singkat.
Pengajian kitab ini diselenggarakan oleh Madinatul Aman dengan pemateri Tgk. Saiful Hadi, M.T. Kegiatan berlangsung setiap malam Jumat setelah salat Isya hingga selesai, bertempat di B.P. Madinatul Aman, Gampong Dham Pulo. Majelis ini menjadi sarana untuk mempelajari isi kitab secara sistematis sekaligus memperdalam pemahaman keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
